
Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Bandar Lampung, hiduplah seorang putri yang terkenal cantik, bijaksana, dan berhati mulia. Selain memiliki paras yang elok, sang Putri juga dikenal sabar serta selalu menjaga kehormatan dirinya dan keluarganya. Seluruh rakyat sangat menghormatinya.
Suatu pagi di taman istana, sang Raja berbicara kepada putrinya.

Raja: "Putriku, rakyat sangat menyayangimu karena engkau selalu peduli kepada mereka."
Putri: "Ayahanda, sebagai keluarga kerajaan sudah menjadi kewajiban kita untuk mengasihi dan melindungi rakyat."
Raja: "Jagalah selalu sifat sabar dan rendah hatimu. Itulah yang membuatmu dihormati."
Putri: "Hamba akan selalu mengingat nasihat Ayahanda."
Beberapa hari kemudian, datanglah seorang bangsawan dari negeri seberang bersama para pengawalnya.
Bangsawan: "Wahai Paduka Raja, aku datang untuk meminang Putri. Dengan kekayaan dan kekuasaanku, aku yakin tidak ada alasan untuk menolak."
Raja memandang putrinya.
Raja: "Keputusan tetap berada di tangan Putri."
Sang Putri melangkah maju dengan tenang.
Putri: "Terima kasih atas niat baik Tuan. Namun, maafkan hamba, hati hamba belum siap menerima pinangan ini."
Wajah bangsawan berubah muram.
Bangsawan: "Apakah engkau berani menolak seorang bangsawan sepertiku?"
Putri: "Penolakan ini bukan untuk merendahkan Tuan. Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya dengan bijaksana."
Namun, bangsawan itu tidak dapat menerima penolakan tersebut.
Bangsawan: "Jika demikian, aku akan kembali dengan pasukan. Kerajaan ini akan menyesali keputusanmu!"
Bangsawan itu pun pergi meninggalkan istana.
Suasana kerajaan berubah tegang.
Menteri: "Paduka Raja, bagaimana jika ia benar-benar datang menyerang?"
Raja: "Kita harus bersiap melindungi kerajaan."
Sang Putri memandang rakyat yang mulai diliputi ketakutan.
Putri: "Ayahanda, hamba tidak ingin rakyat menjadi korban karena persoalan ini."
Raja: "Lalu apa yang akan engkau lakukan, Putriku?"
Putri: "Hamba akan memohon petunjuk kepada Tuhan. Semoga ada jalan terbaik tanpa pertumpahan darah."
Pada malam hari, sang Putri diam-diam meninggalkan istana menuju sebuah tempat yang sunyi di kaki perbukitan.
Putri: "Ya Tuhan, lindungilah rakyat kerajaan ini. Jangan biarkan mereka menderita karena diriku. Berikanlah jalan damai dan jagalah kehormatan keluargaku."
Sesaat kemudian, angin bertiup lembut. Tanah di tempat Putri berdoa mulai mengeluarkan mata air yang sangat jernih.

Tetua Kampung: "Paduka, mungkin ini adalah pertanda bahwa Putri telah mengorbankan dirinya demi keselamatan rakyat."
Air mata Raja menetes.
Raja: "Putriku telah memilih kedamaian daripada peperangan. Pengorbanannya akan selalu dikenang."
Sejak saat itu, mata air tersebut dikenal sebagai Sumur Putri.

Beberapa waktu kemudian, masyarakat berkumpul di sekitar sumur itu.
Warga 1: "Airnya begitu jernih dan tidak pernah kering."
Warga 2: "Sumur ini akan menjadi pengingat akan kesabaran dan kemuliaan hati sang Putri."
Tetua Kampung: "Marilah kita wariskan kisah ini kepada anak cucu agar mereka belajar bahwa kesabaran, kebijaksanaan, dan menjaga kehormatan adalah sifat yang harus dimiliki setiap manusia."
Sejak saat itu, Legenda Sumur Putri terus hidup di tengah masyarakat Bandar Lampung sebagai cerita yang mengajarkan bahwa kesabaran mampu meredam amarah, sedangkan kehormatan harus dijaga dengan kebijaksanaan dan pengorbanan.